NewsGpgo.inGopego MagzFans Art

Google TOLAK Hapus Trailer Innocence of Muslim Dari YouTube

16 Sep 2012
Google TOLAK Hapus Trailer Innocence of Muslim Dari YouTube

Para pejabat di Gedung Putih pada hari Jumat lalu telah mengajukan permintaan pada YouTube untuk meninjau kembali video trailer dari ‘Innocence of Muslims,’ sebuah film kontroversial anti-muslim yang telah menyebabkan protes besar-besaran di negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim.

New York Times (NYT) mengabarkan bahwa permintaan tersebut masih belum disanggupi oleh Google, dan mereka masih belum memiliki rencana untuk menghapusnya. Google memberitahukan pada NYT bahwa video tersebut sama sekali tidak melanggar ketentuan layanan dari YouTube perihal kebencian terhadap golongan tertentu, karena isi video lebih berfokus pada agama Islam, bukan para pemeluknya.

Google saat ini hanya sebatas memblokir akses untuk video tersebut di negara Mesir dan Libya karena dianggap melanggar peraturan di kedua negara tersebut, dan para pengguna dari negara-negara lain masih bisa mengaksesnya dengan bebas.

Video kontroversial yang berdurasi 14 menit tersebut diperkirakan dibuat oleh Sam Bacile, seorang warga negara Amerika keturunan Yahudi yang berprofesi sebagai seorang developer real estate di California. Namun informasi terbaru menyatakan bahwa identitas tersebut sama sekali tak tercatat di California dan pemerintah Israel juga menyangkal keberadaannya.

Gara-gara video tersebut, 4 orang warga negara AS meninggal dunia di Libya, dan salah satunya adalah duta besar AS di negara tersebut. Protes untuk video tersebut juga terjadi dalam skala global.

Keputusan Google tersebut berdasarkan kebijakan perusahaan perusahaan mereka di tahun 2007 yang mengatakan bahwa mereka baru akan mempertimbangkan menghapus sebuah video bila memang melanggar hukum, peraturan serta budaya setempat di negara tertentu (bukan berlaku secara global).

Satu jenis konten, walaupun dianggap sah di berbagai tempat, namun juga bisa dianggap sebagai hinaan di kawasan tertentu, dan masih dianggap biasa saja di tempat lain,” kata Rachel Whetstone, senior Vice President untuk divisi komunikasi dan kebijakan umum Google. “Kami sangat tanggap dengan respon dari para pengguna layanan kami, jadi kami akan selalu mengedepankan aspek budaya lokal dan kepentingan setempat.”

Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini? Apakah kebijakan Google sudah tepat atau mereka harus segera menghapusnya secepat mungkin karena menghina sebuah agama tertentu?

Source